Indahnya Girls Frontline Jika Ubisoft Yang Rilis

Indahnya Girls Frontline Jika Ubisoft Yang Rilis

gamesandroid.org Pada kesempatan kali ini kami akan memberikan beberapa artikel yang berkaitan tentang pembahasan mengenai Indahnya Girls Frontline Jika Ubisoft Yang Rilis. Berikut ini akan kami berikan beberapa ulasan dan pembahasan yang berkaitan mengenai Indahnya Girls Frontline Jika Ubisoft Yang Rilis

Beberapa game mobile memperkenalkan major event setiap beberapa bulan sekali untuk membuat gamer semakin antusias memainkan game-nya. Setiap major event menawarkan sistem gameplay baru dan tantangan yang lebih sulit. Meski demikian, hadiah yang kamu dapatkan pun tak kalah menarik.

Uniknya, di game Girls’ Frontline, major event justru jadi momok yang “menakutkan.” Banyak gamer yang mengaku belum siap menghadapi major event karena berbagai alasan, misalnya kekurangan resource dan belum mempersiapkan pasukan mereka. Sebenarnya seberapa “menakutkan”-nya kah major event di Girls’ Frontline?

1. Major event hadirkan musuh tangguh dan mekanika gameplay baru
Major event di Girls’ Frontline selalu menghadirkan musuh-musuh jenis baru yang tidak hanya kelihatan mengintimidasi, namun juga dilengkapi serangan yang sangat mematikan.Ambil contoh di event Arctic Warfare yang jadi debut Jupiter Cannon, sebuah meriam railgun yang bisa membabat pasukan kamu dalam sekali tembak. Lalu ada juga Goliath di event Deep Dive, yaitu drone bunuh diri yang bisa meledakkan diri dan menghasilkan instant kill!

Tapi tenang, unit-unit tersebut bisa diatasi jika bisa memanfaatkan mekanika gameplay baru yang dikenalkan untuk mengalahkan unit tersebut. Misalnya untuk Jupiter Cannon, meriam tersebut bisa dimatikan dengan cara mengambil node yang mengelilinginya. Untuk Goliath, drone menyebalkan ini masih bisa dihancurkan jika kamu punya pasukan yang cukup kuat atau menggunakan Force Shield untuk menetralisir damage ledakannya.

2. Major event perkenalkan fitur tambahan pengubah meta
Musuh-musuh di major event Girls Frontline memang sulit dikalahkan dengan susunan pasukan yang ada saat ini. Untuk menyeimbangkan game-nya, kamu juga akan diberikan berbagai fitur baru yang akan mengubah taktik dan cara bermainmu.Misalnya di event Deep Dive, dikenalkan unit Fairies yang bisa memperkuat pasukan kamu. Fairies memiliki skill pasif dan aktif yang bisa memberikan tambahan kekuatan. Skill aktif ini punya berbagai macam fungsi, mulai dari memanggil serangan mortar hingga menambah utilitas seperti teleport. Memperkuat Fairies bukan perkara mudah karena mereka butuh EXP dalam jumlah besar, dan memiliki sistem upgrade yang bisa menguras resource.

Salah satu fitur baru yang menjadi game changer di Girls’ Frontline adalah Heavy Ordnance Corps yang muncul di event Continuum Turbulence. Fitur ini menampilkan jenis pasukan baru yang menggunakan persenjataan berat seperti mortar, roket, dan pelontar granat. Keunikan HOC adalah ia hanya bisa diturunkan di helipad khusus, tidak bisa menyerang langsung (hanya bisa menjadi support pasukan normal), dan upgrade-nya akan memakan resource dalam jumlah besar.

3. Major event jadi tempat diadakannya ranking mode
Tak hanya menyajikan single player campaign yang menantang, major event Girls’ Frontline memungkinkan kamu bertarung dengan gamer lain memperebutkan posisi satu dalam ranking mode.Dalam mode ini, kamu diminta untuk bertahan dari serangan musuh selama beberapa turn. Kamu akan mendapatkan poin setiap kali mengalahkan musuh dan mengumpulkan suplai tambahan, namun poin akan berkurang jika kamu memperbaiki pasukan atau mundur dari pertempuran. Ranking mode ini jadi incaran karena berhadiah Fairies atau equipment eksklusif yang jarang muncul di event-event lain!

4. Major event menguras resource dan punya jeda singkat antara event-nya
Ini yang menjadi alasan utama kenapa banyak gamer yang takut dengan major event di Girls’ Frontline. Game ini memiliki 4 jenis resource utama: Manpower, Ammo, Rations, dan Parts. Semua aktivitas di Girls’ Frontline, mulai dari membangun T-Doll dan equipment, mengirim pasukan untuk bertarung, hingga memperbaiki T-Doll, akan menghabiskan resource tersebut.

Major event sering kali menjadi menjadi beban bagi yang sedang mengumpulkan resource. Proses trial-and-error dalam melawan bos, grinding untuk mendapatkan hadiah langka, hingga memperbaiki pasukan di tengah misi akan sangat menguras resource. Jika saat event dimulai resource yang dikumpulkan tidak cukup, maka resource akan habis di tengah jalan dan kamu tidak akan bisa bermain. Belum lagi ditambah jeda antara major event kini berjarak kurang lebih tiga bulan, dan jumlah waktu tersebut dirasa cukup kurang untuk memulihkan resource.

5. Major event lanjutkan petualangan tokoh utama Girls’ Frontline
Setiap major event Girls’ Frontline akan melanjutkan cerita utama game tersebut. Beberapa major event awal seperti Arctic Warfare dan Operation Cube biasanya menampilkan cerita sampingan dengan skala besar ala-ala film Naruto. Namun semenjak event Deep Dive, cerita yang disajikan jauh lebih serius, kelam, dan depresif.Puncaknya adalah pada event Singularity yang menampilkan perubahan drastis pada sisi narasi dan suasana cerita. Tokoh utama M4A1 yang awalnya gugup dan kurang percaya diri, berubah menjadi pembunuh berdarah dingin yang punya misi balas dendam. Intrik, twist, dan konspirasi menjadi santapan utama, belum ditambah Singularity menguak plot penting yang melatar belakangi semua kejadian penting di game Girls’ Frontline.

Dengan kehadiran Continuum Turbulence di bulan Februari ini, yang akan melanjutkan tren major event Girls’ Frontline; serta event kolaborasi Gunslinger Girls yang diperkirakan akan mengedepankan intrik dan drama serumit serial anime-manganya, major event di Girls’ Frontline akan terus menghantui para gamer yang memainkannya. Namun jika kamu bisa mempersiapkan diri sematang mungkin, kamu tidak akan kesusahan dalam menyelesaikannya.

Baru-baru ini, beredar rumor di Tiongkok bahwa game mobile Girls’ Frontline akan berkolaborasi dengan developer game raksasa Ubisoft. Dalam sebuah posting media sosial yang membahas kolaborasi game GFL di masa lalu, tiba-tiba muncul komentar dari akun media sosial resmi Ubisoft.Meskipun rumor ini sangat tidak kuat keabsahannya, tentunya menarik sekali jika nantinya Ubisoft membuat game 3D bertema Girls’ Frontline. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa Ubisoft akan mengerjakan game GFL 3D, yang mana kepastian tentang game 3D Girls’ Frontline 2 akan diumumkan di event Girls’ Frontline Expo Shanghai di tanggal 2 Mei nanti.Karena itu, mari kita membayangkan 5 konsep game yang menggabungkan premis game GFL dengan beberapa game aksi terkenal Ubisoft.

Baca Juga : PUBG Mobile Terlaris Di Awal Tahun

1. Girls’ Frontline x Rainbow Six
Rainbow Six jadi salah satu seri andalan Ubisoft saat ini, dengan Siege menjadi game tactical FPS dan game esports terpopuler mereka saat ini.Jika GFL digabungkan dengan R6 Siege, gamer bisa memilih salah satu karakter GFL dengan skill uniknya masing-masing. Para gamer dibagi ke dalam dua tim dan harus menyelesaikan misi sebagai tim penyerang dan bertahan.Elemen strategi juga bisa dimasukkan jika game GFL ini justru mengambil inspirasi dari game Rainbow Six lama. Layaknya game GFL original, kamu akan diminta menyiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menyelesaikan misi. Kemudian, kamu bisa mengendalikan pasukan itu secara manual untuk melaksanakan strategi yang sudah dibuat.

2. Girls’ Frontline x Ghost Recon
Buat saya, konsep Ghost Recon jauh lebih cocok untuk sebuah game 3D Girls’ Frontline. Game GFL sendiri menggunakan latar medan perang berukuran luas dan memiliki variasi lingkungan beragam seperti hutan, gurun, dan perkotaan.Bayangkan kamu memimpin satu unit pasukan dan kamu punya kontrol penuh untuk memerintah 4 anggota tim lain. Kamu bisa menjelajahi open world untuk menjalankan berbagai misi mulai dari misi penyelamatan T-Doll hingga misi sabotase fasilitas Sangvis Ferri. Manfaatkan berbagai jenis kendaraan untuk menyelesaikan misi, entah itu truk transport hingga tank KCCO.

3. Girls’ Frontline x The Division
Dunia Girls’ Frontline digambarkan hancur akibat peperangan dan merebaknya wabah ELID. Nuansa yang sama pun bisa kita temukan di game The Division, dimana tatanan masyarakat yang kita kenal sudah runtuh.Kamu dan teman kamu bisa bekerja sama untuk menyapu bersih kantong-kantong persembunyian Sangvis Ferri. Jika kalian berani, kalian juga bisa masuk ke Dark Zone yang mengandung konsentrasi tinggi unit SF dan virus Parapluie.

4. Girls’ Frontline x Watch Dogs
Kombinasi Girls’ Frontline dengan Watch Dogs memang kedengaran kurang cocok. Namun keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu hacking.Sistem combat untuk game 3D Girls’ Frontline bisa menganut game-game lain, namun berbagai fitur hacking dari Watch Dogs bisa digunakan. Misalkan jika kamu memainkan AK-12, kamu bisa menggunakan skill-nya untuk melakukan hacking pada unit musuh. Mereka bisa dikendalikan untuk menolong kamu dalam pertarungan.

5. Girls’ Frontline x Far Cry
Nah kalau yang satu ini konsepnya pemuas fantasi banget. Dalam Far Cry, kamu bisa menjadi seorang superhero yang mampu membabat habis markas musuh sendirian.Dengan plot game GFL yang makin kompleks serta fantastis, rasanya sah-sah saja mengaplikasikan konsep Far Cry ke game GFL. Bayangkan bermain sebagai M4 dengan upgrade Mod 3, menjarah markas Sangvis Ferri dan membombardirnya dengan meriam portabelnya. Seram…

6. Konsep game lainnya
Di luar game-game Ubisoft di atas, masih banyak konsep game 3D GFL yang terinspirasi dari game besar lain. Bayangkan game strategi GFL ala XCOM, Jagged Alliance, Valkyria Chronicles, atau Fire Emblem: Three Houses. Game FPS lain seperti Battlefield dan Call of Duty pun bisa!